• Home
  • Prasarana dan Sarana

Pentingnya Pupuk Bersubsidi untuk Dorong Produksi Padi

02 Jul 2024, 13:27 WIB | Indarto

FGD Peran Subsidi Pupuk Terhadap Peningkatan Produksi Padi untuk Mencapai Swasembada Beras, di Bogor | Dok. Istimewa

AGROMILENIAL.COM, Bogor --- Pupuk menjadi salah satu faktor penentu untuk mendorong produksi padi. Jika asupan pupuk terhadap padi turun, hampir bisa dipastikan produktivitas padi yang dihasilkan akan turun. Karena itu peran pupuk bersubsidi bagi petani sangat penting untuk mendorong produksi padi. Diharapkan, ke depannya pupuk bersubsidi tak hanya untuk petani padi, tapi bisa diperluas untuk tanaman padi gogo, hingga tanaman tahunan seperti sawit.

Baca Juga :

Ketua Umum Peragi, Prof Andi Muhammad  Syakir mengatakan, karena krisis global dan geopolitik kurun beberapa tahun terakhir, berdampak terhadap pasokan pupuk dunia. Bahkan, ketika harga pupuk global naik, maka terjadi penurunan volume pupuk.

 “ Kalau sebelumnya pupuk kita berdasarkan jumlah harga, maka untuk pupuk bersubsidi saat ini berdasarkan volume. Sehingga, memungkinkan kita untuk melakuka diversifikasi pupuk, layaknya BBM subsidi,” kata M. Syakir saat menjadi pembicara kunci pada FGD bertajuk “Peran Subsidi Pupuk Terhadap Peningkatan Produksi Padi Untuk Mencapai Swasembada Beras,” di Bogor,  Selasa (2/7).

Menurutnya, diversifikasi pupuk diperlukan untuk mendorong peningkatan produksi pangan lainnya.  Jangan sampai karena kekurangan pupuk, produksi lada turun, kakao juga turun dan sawit yang lahannya terluas, namun produktivitas menurun.  Mengapa produktivitasnya menurun? Karena, pemupukaannya terkendala. Pupuk bersubsidi sejak 2018 mengalami penuruan.

“  Turunnya pupuk bersubsidi juga berdampak terhadap menurunnya luas tanam,” ujar M. Syakir.

Guna meningkatkan produksi, lanjut M. Syakir,  areal  tanam diperluas  dan indeks pertanaman (IP) ditingkatkan dari IP I menjadi IP II. Lahan tadah hujan perlu didorong dengan pompanisasi. Lahan padi gogo juga didukung dengan pompanisasi . “ Potensi sawah tadah hujan kita besar, ekosistem rawa kita juga besar.  Lahan replanting sawit kita juga cukup luas. Semua itu kalau diberdayakan dengan baik bisa menjadi sumber pangan. Pangan sangat penting, siapa yang menguasai pangan akan menguasai dunia,” katanya.

Ancaman Kelaparan 

Menurut M. Syakir, situasi dunia saat ini dihadapkaan pada masalah pangan dunia. Berdasarkan berbagai sumber menunjukkan terdapat 59 negara terancam kelaparan serius, terdapat sekitar 900 juta penduduk dunia mengalami kelaparan dan tercatat 7-16% penduduk Indonesia masih dalam posisi rentan kelaparan (World Food Programme-WFP, FAO). 

Saat yang bersamaan terdapat ancaman krisis pangan dunia ditengah gelombang iklim ekstrim. Beberapa negara penghasil pangan khususnya beras yaitu India, Pakistan, Bangladesh, Kamboja dan lainnya telah mengambil kebijakan untuk menghentikan ekspor. Hal itu, dikarenakan semakin tingginya permintaan beras dan juga keterbatasan produksi akibat iklim ekstrim. 

Dibeberapa negara seperti Kongo, Afganistan, Yaman, Sri Langka dan lainnya teracam kelaparan sebanyak 345  juta jiwa. Belum stabilnya geopolitik dunia akibat perang Rusia-Ukraina menambah daftar permasalahan besar dunia yang berpotensi pada kondisi ekonomi global termasuk sektor pangan yang akan ditandai dengan naiknya harga pangan dan bahan baku. Kondisi dilapang pada 3 tahun terakir menunjukkan adanya kecenderungan naiknya harga beras hingga 56%. Hal ini memberikan andil terhadap inflasi pangan yang sangat tinggi terutama di Argentina (133%), Turkey (72,8%) dan UK sebesar (13,6%). 

Faktor ekstrem lain yang akan mengancam pada saat yang bersamaan adalah kekeringan (El Nino) yang mengakibatkan kenaikan suhu sebesar 1,5 cC SST, hal akan mengakibatkan kekeringan sehingga supply air kritis. Berbagai ancaman tersebut tentu tidak bisa dianggap remeh tapi harus ada langkah-langkah antisipasif dan migitasi untuk menekan potensi krisis pangan khusunya padi yang berkelanjutan.

Terdapat beberapa penyebab terjadinya penurunan produksi padi berdasarkan berbagai sumber yang diperoleh baik dari aspek teknis dan non teknis. Penyebab tersebut adalah terdapat saluran irigasi >50% perlu dilakukan revitalisasi (perbaikan). 

Pupuk sebagai sumber penting faktor peningkatan produksi tidak tersedia sesuai kebutuhan masa tanam hanya tersedia 50% dari total kebutuhan (petani hanya mampu menanam satu kali).  Terdapat 17-20% petani tidak bisa memanfaatkan fasilitas akses pupuk melalui kartu tani. Kemudian,  terbatasnya bibit unggul di lapangan saat diperlukan pada masa tanam, penyuluh sebagai faktor penting diseminasi teknologi kepada petani juga mengalami keterbatasan atau hanya 50% tenaga penyuluh yang ada dari kebutuhan nasional, keterbatasan anggaran APBN untuk sektor pertanian, dan ditemukan banyak sarana dan prasarana pertanian yang tidak produktif lagi (usia teknis). (dar)